Laporan : Ajun Ally
Cakrawalainfo.com (Indonesia) - Pasalnya, bila ereksi yang bermasalah ini berkaitan dengan persarafan atau merupakan efek dari konsumsi obat lain, maka menelan Viagra sebanyak apa pun tak bakal ada pengaruhnya sama sekali.
Sementara, untuk masalah ejakulasi (khususnya ejakulasi dini), menurut dr. Ferryal, bisa diatasi dengan obat-obatan yang bersifat psikotropika.
Obat ini berfungsi menurunkanb ketegangan psikologis seseorang, karena umumnya mereka yang bermasalah dengan ejakulasi dini, libidonya sangat sensitif. Terangsang sedikit saja, sudah langsung ejakulasi.
Selain obat-obatan yang berkhasiat memperbaiki disfungsi seksual, yang juga laris manis di kalangan pria Indonesia adalah jamu-jamuan.
Sesungguhnya, penggunaan jamu-jamuan pendongkrak keperkasaan ini hanya berkhasiat sedikit. Lebih untuk membuat tubuh menjadi lebih segar. Dan, kalau badan segar, urusan ranjang pun biasanya lebih lancar.
Tapi, dr. Ferryal menekankan, sebaiknya konsumsi jamu kuat pria ini pun tidak boleh sembarangan. Pasalnya, sekarang ini banyak perusahaan jamu yang nakal, dengan memasukkan sejumlah bahan kimia ke dalam kandungan bahan bakunya.
Menurut psikolog Roslina Verauli, mengonsumsi obat kuat untuk meningkatkan performa seksual lebih banyak dilakukan oleh para pria atau suami yang sesungguhnya tidak atau belum memerlukannya.
“Biasanya, masalah mereka adalah karena pernah gagal in action, entah itu berupa ejakulasi dini atau sulit ereksi. Padahal, hal itu lumrah saja terjadi, misalnya saat dia sedang stres atau kurang fit,” kata Roslina.
Harus diakui, untuk urusan doping model begini, memang banyak pria yang sok jago. Pasalnya, mereka menganggap pria yang pergi ke dokter untuk mengatasi masalah keperkasaannya adalah pria yang lemah, selain karena gengsi jika ketahuan punya masalah keperkasaan.
Padahal, menurut dr. Ferryal, hukumnya adalah wajib untuk berkonsultasi terlebih dahulu kepada dokter sebelum memakai obat-obatan pendongkrak keperkasaan tersebut.*(femina-online/jay)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar