Cakrawalainfo.com (Jogyakarta) - Sekitar 3000 orang yang datang dari berbagai wilayah Jogjakarta, Jateng dan Jatim, memadati komplek pemakaman raja-raja Mataram di Imogiri, Kabupaten Bantul, Jogjakarta, Jumat (18/12/2009).
Kedatangan mereka di komplek pemakaman raja--raja dinasti Mataram Islam itu, hanya sekedar ingin berebut serta mendapatkan tuah dari beberapa gentong yang pernah digunakan untuk wudlu oleh raja raja tersebut. Karena memang tanggal 1 Muharam/Suro yang jatuh pada tanggal 18 Desember 2009 ini, gentong-gentong tersebut dikuras untuk dibersihkan. Lalu, air dalam gentong yang dibuang inilah yang diperebutkan oleh ribuan warga untuk cuci muka. Bahkan ada yang diminum. Karena ingin mendapatakan air bertuah ini, walau prosesi ritual baru dimulai sekitar pukul 11.00 WIB, namun sejak pukul 8 pagi, ribuan masyarakat rela antri agar kesempatan "emas" itu tak terlewatkan.
Lalu untuk apa sebenarnya masyarakat berebut air gentong yang dikuras ini ? Menurut salah seorang pengunjung dari Madiun, Jawa timur, Sri Astuti (48), dirinya percaya jika dengan mencuci muka dengan air gentong milik raja Mataram, maka akan awet muda. Tak hanya itu, pasalnya, banyak yang percaya dengan mencuci muka atau minum air gentong keramat ini, konon akan terbebas dari segala macam penyakit. "Ya...biar awet muda dan bebas dari segala macam penyakit. Untuk apa saya datang jauh-jauh dari Madiun, kalau air gentong ini tidak bertuah, " terang perempuan yang tinggal di Jalan Ronggo Jumeno, Kelurahan Kuncen, Kecamatan Taman, Kota Madiun kepada reporter cakrawalainfo.com.
Apalagi untuk masuk ke dalam komplek makam raja raja Mataram ini, tidak mudah pada hari biasa. Karena pada hari biasa, semua yang masuk ke dalam komplek makan, harus menggunakan pakaian adat keraton. Bagi perempuan harus menggunakan kemben, sedangkan bagi laki-laki harus bertelanjang dada seperti prajurit keraton temo dulu. Karena itu, dihari bebas seperti saat ritual menguras gentong, ribuan masyarakat menggunakan kesempatan tersebut untuk dapat masuk ke dalam komplek makam Imogiri.
Sementara itu, pada malam satu Muharam, di Kraton Jogjakarta diadakan ritual tapa bisu mubeng (keliling) beteng keraton. Selain diikuti oleh ratusan abdi dalem kraton Ngayogjakata Hadiningrat, ritual dengan membawa obor ini juga diikuti masyarakat umum. Sedangkan start-nya, dimulai dari alon-alon utara yang terletak disisi utara kraton. Acara ritual mubeng beteng ini, baru dimulai sekitar pukul 00 WIB, walau sebenarnya masyarakat sudah menjubeli alon-alon utara sejak pukul 20.00 WIB. Lalu apa sebenarnya makna dari ritual bisu mubeng beteng yang menempuh jarak sekitar 4 kilometer ini?
Menurut salah seorang abdi dalem kraton, Surakso (55), selain untuk menyambut tahun baru 1431 Hijriyah atau 1 Suro, dalam ritual ini mempunyai makna agar manusia mengerti dan mencintai akan kedamaian। Karena diam इतु berarti emas। "Kita semua harus mencintai kedamaian। Caranya, lebih banyak diam melakukan hening Muhung Mahase Asepi dari pada woro-woro yang tak ada gunanya। Karena kata pepatah, Diam itu Emas. Mulutmu Harimaumu, “ tutur Surakso yang mengaku hanya menerima gaji dari kraton sebesar 7.500 tiap bulan.*(dib/jay)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar