Minggu, 03 Januari 2010

Bunda Lia : Gus Dur, Salah Satu Paku Bumi Tanah Jawa
Laporan : Sudibyo

Cakrawalainfo.com (Jogyakarta) - Banyak kalangan intelektual yang berkomentar tentang predikat apa yang pantas untuk tokoh brilyan sekelas almarhum KH Abdulrrahman Wahid atau Gus Dur itu ?

Ada yang mengatakan bahwa putra KH. Wahid Hasim ini adalah sebagai bapak reformasi. Ada pula yang mengatakan lebih pantas disebut, sebagai bapak pluralisme dan seabrek predikat lainnya. Tak hanya itu, berbagai tokoh partai politik (Parpol) mengusulkan agar cucu pendiri Pondok Pesantren (Ponpes) Tebu Ireng, Jombang, Jawa Timur, KH Hasyim Ashari itu diberi gelar sebagai Pahlawan Nasional.

Pasalnya, selain dikenal sebagai bapak bangsa yang namanya sudah tak asing lagi di Indonesia, pendiri Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini juga sudah tak asing di kancah dunia. Dan itu, memang pantas untuk tokoh sekaliber orang yang menguasai tiga bahasa asing, Tiongkok, Inggris dan Arab.

Sebagai seorang kyai yang pernah menjadi presiden dan satu-satunya Presiden Indonesia yang hafal Alquran, tentu saja selain mempunyai kelebihan dibidang intelektual, pria lulusan Universitas Bagdad dan juga pernah mengenyam pendidikan di Universitas Kairo Mesir, tentu juga mempunyai kelebihan dibidang spiritual.

Karena itulah, bersamaan dengan acara Labuhan Agung tolak balak Negeri di pantai keramat Parangkusumo, Parangtritis, Jogjakarta pada malam purnama Suro, Jum’at (1/1/2010) lalu, sebanyak 111 orang linuwih yang dipimpin oleh tokoh supranatural Jogjakarta, Bunda Lia Hermin Putri, juga menggelar sarasehan untuk menemukan "gelar".

Gelar apa yang tepat untuk tokoh sekelas Gus Dur, menurut versi kalangan orang-orang linuwih tersebut. Dalam acara diselenggarakan Padepokan Songgo Buwono, Manding, Bantul, Jogjakarta (sebagai tuan rumah), Bunda Lia Hermin Putri mengusulkan kepada undangan yang hadir jika dilihat dari kacamata supranatural, Gus Dur lebih tepat mendapatkan gelar sebagai salah satu "Paku Bumi" tanah Jawa.

Rupanya, dari seratus lebih tokoh-tokoh spiritualis dan supranaturalis yang hadir dari berbagai penjuru tanah jawa, semua setuju atas pandangan dan usulan pimpinan padepokan Songgo Buwono. Menurut bunda Lia, oleh karena salah satu dari paku bumi Tanah Jawa telah tiada, maka bangsa Indonesia harus lebih wawas diri dalam berbagai hal. Kecuali, Kesandung lemah rata, Kesundul awing-awang/mengalami musibah yang tak dapat diduga dan diantisipasi.

"Namanya saja paku bumi atau pondasi. Bayangkan saja, jika salah satu bangunan kehilangan satu pondasi. Apa yang terjadi? ", terang Bunda Lia dengan nada Tanya kepada reporter cakrawalainfo.com.*(dib/jay)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar