Laporan : Sudibyo
Cakrawalainfo.com (Jogyakarta) - Iring-iringan dengan berjalan kaki menuju Pantai Parangkusumo, Parangtritis, Bantul, Jogjakarta.
Dengan menghadap ke laut lepas, lagi-lagi pimpinan Padepokan Songgo Buwono Bunda Lia Hermin Putri melakukan ritual dengan menghaturkan berbagai macam sesaji.
Selanjutnya acara ritual tari Bedoyo Songgo Buwono yang dimainkan oleh 9 gadis cantik. Sebenarnya, prosesi ritual tari sakral inilah yang paling dinantikan oleh kalangan spiritualis muda maupun yang lainnya. Lebih-lebih para pengunjung yang awam dengan dunia kegaiban.
Pasalnya, tarian yang juga diiringi gamelan asli lengkap dengan wira pradonggonya ini, semua penarinya mengunakan pakaian sutra berwarna hijau. Padahal, seperti yang telah diketahui oleh banyak kalangan, jangankan menggelar tari ditepi pantai yang ombaknya terkenal ganas ini?
Konon, menggunakan baju berwarna hijau saja ditepi pantai tersebut, tak ada yang berani. Karena dalam mitologi masyarakat setempat, dianggap mengembari busana kesukaan penguasa laut selatan.
Namun kenyataannya, perempuan yang akrab dipanggil Bunda Lia Hermin Putri ini, justru menggelar acara yang cukup mendebarkan, menampilkan sembilan penari dengan busana sutra serba hijau.
Dan kenyataannya, hingga acara tarian usai, tak terjadi apa-apa. Bahkan ketika tarian sedang digelar, ombak laut yang semula ganas, tiba tiba reda. Sedangkan prosesi ritual akhir yakni, melarung sesaji ke pantai yang diperebutkan oleh ribuan yang hadir.
Lalu apa sebenarnya tujuan prosesi ritual di malam bulan purnama Suro ini? Menurut penuturan bunda Lia kepada reporter Cakrawalainfo.com, selain menyambut malam purnama serta Muhung Mahase Asepi, dirinya juga minta kepada Tuhan agar rakyat Indonesia terhindar dari segala bencana dan mara bahaya.
Selain itu, bagi kalangan spiritualis percaya jika pada malam purnama di bulan Suro inilah, segala sesuatu permintaan akan mudah dikabulkan oleh yang di Atas. Baik itu rejeki, keselamatan maupun derajat dan pangkat bagi yang menginginkannya.
"Semua itu minta kepada yang di Atas, kalau sesaji untuk Kanjeng Ratu Kidul, itu merupakan sarana," jelas bunda Lia yang namanya sudah tak asing lagi di Jogjakarta.*(dib/jay)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar